Tuesday, November 06, 2007

dari Khalil Gibran untuk 99

Seorang peladang datang bertanya:
Berilah penjelasan pada kami soal Kerja.

Maka demikianlah bunyi jawabnya:
Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi, serta perjalanan roh jagad ini.
Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim,
serta keluar dari barisan kehidupanmu sendiri,
yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya, menuju keabadian masa.

Bila bekerja, engkau ibarat sepucuk seruling,
lewat jantungnya bisikan sang waktu menjelma lagu.
Siapa mau menjadi ilalang dungu dan bisu,
pabila semesta raya melagukan gita bersama.

Selama ini kau dengar orang berkata bahwa kerja adalah kutukan,
dan susah-payah merupakan nasib, takdir suratan.

Tetapi aku berkata padamu bahwa bila kau bekerja,
engkau memenuhi sebagian cita cita bumi yang tertinggi,
yang tersurat untukmu, ketika cita cita itu terjelma.
Dengan menyibukkan diri dalam kerja,
hakikatnya engkau mencintai kehidupan.
Mencintai kehidupan dengan bekerja,
adalah menyelami rahasia hidup yang terdalam.
Namun pabila dalam derita kau sebut kelahiran sebagai siksa,
dan pencarian nafkah sebuah kutukan yang tercoreng di kening,
maka aku berkata bahwa tiada lain dari cucuran keringat jua,
yang dapat membasuh suratan nasib manusia.

Selama ini kau dengar orang berkata bahwa hidup adalah kegelapan,
dan dalam keletihanmu kau tirukan kata kata mereka yang lelah.


Namun, aku berkata bahwa hidup memang kegelapan, kecuali: jika ada dorongan.
Dan semua dorongan buta belaka, kecuali: jika ada pengetahuan.
Dan segala pengetahuan adalah hampa, kecuali: jika ada pekerjaan.
Dan segala pekerjaan adalah sia sia, kecuali: jika ada kecintaan.


Jikalau kau bekerja dengan rasa cinta,
engkau menyatukan dirimu dengan dirimu,
kau satukan diri dengan orang lain, dan sebaliknya,
serta kau dekatkan dirimu kepada Tuhan.

Dan apakah itu, bekerja dengan rasa cinta?
Laksana menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu,
seolah olah kekasihmulah yang akan mengenakan kain itu.

Bagai membangun rumah dengan penuh sayang,
seolah olah kekasihmulah yang akan mendiaminya di masa depan.

Seperti menyebar benih dengan kemesraan, dan memungut panen dengan kegirangan,
seolah olah kekasihmulah yang akan makan buahnya kemudian.

Patrikan corakmu pada semua benda,
dengan nafas dari semangatmu pribadi.
Ketahuilah bahwa semua roh suci sedang berdiri mengelilingimu,
memperhatikan dan mengawasi, dan memberi restu.

Seringkali kudengar engkau berkata-kata, laksana menggumam dalam mimpi,
"Dia yang bekerja dengan bahan pualam,
dan menemukan dalamnya bentuk jiwanya sendiri,
lebih tinggi martabatnya daripada dia, si pembajak sawah.
Dan dia yang menangkap pelangi di langit untuk dilukis warnanya,
menyerupai citra manusia, diatas kain,
derajatnya lebih mulia daripada dia, si pembuat sandal kita."

Namun aku berkata, tidak di dalam tidur,
melainkan dikala jaga sepenuhnya, ketika matahari tinggi,
bahwa angin berbisik tidak lebih mesra di pohon jati raksasa,
daripada di rerumputan paling kecil tanpa arti:
Dan hanya dialah sungguh besar, yang menggubah suara angin,
menjadi sebuah simponi, yang makin agung karena kasih sayangnya.


Kerja adalah cinta yang mengejawantah.
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan,
maka lebih baiklah engkau meninggalkannya, lalu
mengambil tempat didepan gapura candi,
meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita.


Sebab bila kau memasak roti dengan rasa tertekan,
maka pahitlah jadinya dan separo mengenyangkan.

Bilamana kau menggerutu ketika memeras anggur,
gerutu itu meracuni anggur.


Dan walau kau menyanyi dengan suara bidadari,
namun hatimu tidak menyukainya,
maka tertutuplah telinga manusia dari segala
bunyi bunyian siang dan suara malam hari.

("Sang Nabi" - Khalil gibran, di Indonesiakan oleh Sri Kusdyantinah-Pustaka Jaya)

No comments: